Descrizione dell’editore
TIGA PELAUT - PENGEMBARA DI LAUTAN ZAMAN - FIKSI METAFISIK DALAM BAHASA INDONESIA - BREDEVOORT VAN DEN BERG
SEBUAH NOVEL METAFISIK TENTANG WAKTU DAN INGATAN
Sebuah kapal tanpa nama. Tiga mantan tentara. Satu mimpi buruk yang kembali setiap malam, dan tidak pernah datang tanpa alasan.
Di tengah ketegangan Perang Korea, tiga sahabat berdiri di geladak kapal patroli, menatap cakrawala yang tak menjanjikan apa pun kecuali pertempuran. Tapi yang menghantui mereka bukan hanya deru artileri. Setiap kali mereka memejamkan mata, laut yang sama muncul: air berpendar, perahu kecil, dan tangan yang mengulurkan sesuatu dari kegelapan.
Rangkaian mimpi ini bukanlah kebetulan.
Ini bukan sekadar kisah perang. Ini bukan sekadar petualangan laut.
Ini adalah novel fiksi sejarah dan metafisik yang menjalin drama militer, misteri maritim, petualangan lintas waktu, serta pertanyaan tentang ingatan dan takdir ke dalam satu arus yang tak terpisahkan. Dari fiksi parit pertempuran hingga atmosfer pelayaran eksplorasi samudra, dari legenda pelaut kuno hingga fiksi ilmiah antariksa, cerita ini mengikuti benang merah yang sama: tiga jiwa yang selalu kembali. Tiga pelaut yang berlayar melampaui zaman. Dan lautan yang tidak pernah melupakan siapa pun yang pernah mengarunginya.
Buku ini cocok bagi pencinta novel berlatar sejarah, novel perang, misteri metafisik, petualangan maritim, serta pembaca yang mencari kisah persahabatan prajurit dengan balutan takdir, ingatan, dan reinkarnasi.
"Perahu tanpa nama itu terbaring di pelabuhan Yokohama bagaikan makhluk laut tua yang beristirahat sebelum pembantaian. Lambungnya rendah di air, geladaknya hening, tiang-tiangnya telanjang menantang cahaya kelabu pagi yang menembus awan, saat senja antara malam dan fajar ketika dunia menahan napas dan batas antara kenyataan dan mimpi mengabur bagaikan kabut yang meluncur di atas air. Air mengeluarkan bunyi basah dan lapar, bunyi rahang yang membuka, yang menarik-narik besi.
Hanya angka-angka yang menandai perahu itu, putih pudar di atas noda-noda karat, angka-angka yang tak berarti apa-apa bagi mata yang membacanya, ada di sana semata-mata karena seseorang, di suatu tempat, telah memutuskan bahwa segala sesuatu harus memiliki nama, meskipun laut tidak mengerti nama-nama yang diberikan manusia. Lautan purba yang agung tidak peduli. Laut menuturkan bahasanya sendiri, bahasa tanpa kata benda, hanya kata kerja: memecahkan, menelan, membawa, melupakan. Laut tidak memerlukan nama; ia mengenali segala sesuatu dari beratnya, geraknya, kesementaraannya.
Charley berdiri di dermaga, kedua tangan terbenam dalam-dalam di saku jaketnya, dan memandangi angka-angka itu. Angka-angka itu pun suatu hari akan pudar, seperti cat, seperti namanya sendiri, seperti segala sesuatu yang disentuh dan dikira dimiliki manusia. Pagi itu cukup dingin untuk membentuk awan-awan napas, kabut-kabut kecil yang didorong keluar dari mulut lalu lenyap ditelan ketiadaan. Ia mengamati awan-awan itu, cara hidupnya sendiri tampak sesaat di udara beku lalu lenyap. Kematian bagaikan awan napas yang larut dalam cahaya pagi, menguap menjadi tiada."