Descripción editorial
MATA TERAKHIR - CERITA HOROR DALAM BAHASA INDONESIA - HORROR STORY IN INDONESIAN - BREDEVOORT VAN DEN BERG
Di garis pantai yang kejam, laut tak lagi memuntahkan mayat. Ia memuntahkan mata-mata. Elsa Kriel menyaksikan, sang penjaga mercusuar tua, Paman Frik, membuat penemuan mengerikan di pasir yang lembap: sebuah mata tunggal yang berkilau, berwarna tembaga lapuk. Itu adalah mata istrinya, yang hilang diterjang ombak empat puluh tahun silam. Namun mata ini tidak mati. Ia terjaga, dan ia tidak melihat kepada sang paman, melainkan melihat melalui-nya, dengan tatapan yang terpaku pada Elsa.
Inilah awal dari sebuah jelajah menakutkan ke dalam realitas di mana tak ada sesuatu yang tampak sebagaimana adanya. Mata itu menolak untuk dibuang, selalu muncul kembali dalam keadaan basah, selalu mengawasi. Serpihan ingatan yang bukan miliknya, sensasi sutera dingin, rasa asin, dan beban kubur air gelap yang menghancurkan, menyerbu pikiran Elsa. Jejak kaki kecil telanjang muncul dari buih laut, mengarah ke pintunya sebelum menghilang bagai ditelan angin.
Teror ini tidak berbatas di pantai. Para penghuni kota perlahan berubah. Mata mereka sendiri mulai memancarkan kilau tembaga yang tak wajar, dan mereka berdiri dalam vigili sunyi yang penuh antisipasi. Ini lebih dari sekadar kisah hantu; ini adalah infeksi jiwa yang merayap, sebuah horor psikologis yang mempertanyakan hakikat memori dan identitas. Seiring kaburnya batas antara yang tenggelam dan yang hidup, Elsa harus menghadapi kebenaran mengerikan: lautan telah lama menunggu, dan dialah yang terpilih.
"Laut tak lagi memuntahkan mayat. Ia memuntahkan mata.
Mata-mata itu terbaring di pantai bagai mutiara basah, berkilauan dalam cahaya senja. Elsa Kriel berdiri dengan tangan terhunjam dalam di saku jaketnya. Ayahnya, seorang yang telah berlayar di laut selama lima puluh tahun, pernah berkata bahwa lautan memiliki ingatan.
Sebuah jeritan menembus deru ombak. Bukan jeritan ketakutan. Tapi jeritan pengakuan.
Elsa menoleh. Paman Frik, sang penjaga mercusuar tua yang pikunnya datang dan pergi seperti air pasang, berlutut di pasir yang lembap. Di telapak tangan yang terangkatnya, bagai persembahan, terbaring sebuah mata. Irisnya berwarna tembaga, bertabur bintik-bintik emas.
"Annette," bisiknya. Istrinya. Hilang di laut empat puluh tahun silam. Jasadnya tak pernah ditemukan.
Elsa mendekat. Mata di tangan Paman Frik itu tidak menatapnya. Ia menatap Elsa. Pupilnya, hitam dan tak berujung, menyempit menjadi sebuah titik. Elsa merasakannya fokus. Pada wajahnya."